Sabtu, 31 Juli 2010
Target Pertumbuhan Kredit BRI Sebesar 25%
Reporter By : vera
satumenit - Gedung Britama,Jakarta

PT Bank Rakyat Indonesia menargetkan pada semester kedua 2010, kredit yang disalurkan bisa tumbuh. "Loan growth 22 persen (pada semester I-2010) mudah-mudahan bisa bertambah jadi 25 persen," kata Direktur Utama BRI Sofyan Basir dalam paparan publik kinerja BRI pada triwulan II-2010 di kantornya, hari ini (30/7).

Ia mengatakan, kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terus tumbuh signifikan pada tiga bulan terakhir terhitung April 2010. "Januari-Maret memang masih slow down. Tapi begitu masuk April, Mei, Juni, naik signifikan sampai lebih dari Rp 1 triliun," ujarnya.

Untuk meningkatkan capaian kredit dan laba, kata Sofyan, BRI melakukan penyempurnaan infrastruktur. Seperti, penambahan jumlah kantor di berbagai daerah guna mendekati kantong bisnis masyarakat.

"Itu langkah strategis kami ke depan. Kalau bank lain pakai kecepatan 40 km/jam, kami lebih dari itu dan kalau bisa 80 km/jam. Net profit nggak apa-apa BRI dikejar bank lain. Dulu kami di bawah, tapi kami akhirnya melangkahi. Kalau dibandingkan Juni ke Juni dengan semua bank, kami tetap teratas (dalam penyaluran kredit dan capaian laba). Harus dilihat bagaimana kami mengambil pangsa pasar bank lain. Itu berarti strategi kami berhasil," kata dia.

BRI sendiri tahun ini tengah fokus dalam penyehatan kredit sektor menengah yang berada pada kisaran kredit Rp 5-50 juta per debitur. Saat ini kredit untuk sektor menengah sebesar 6,8 persen dari total loan. Yakni Rp 15,2 triliun per Juni 2010.

"Karena kami fokus di penyehatan kredit menengah, maka NPL-nya otomatis naik. Desember 2009, NPL 12 persen di menengah. Dan di Juni naik jadi 14 persen karena ekspansinya kita tahan," kata Lenny Sugihat, Direktur Pengendalian Risiko Kredit BRI pada kesempatan yang sama.

Lenny menambahkan, perusahaan tidak menganaktirikan debitur usaha bidang manufaktur dalam pemberian kredit, sebagaimana penelitian yang dilakukan Institute of Development Economic and Finance beberapa waktu lalu.

"Kami hanya melaksanakan asas harus prudent dan selektif. Harus melihat industri itu secara makro bagaimana. Pelakunya juga bagaimana. Kalau makro kan kami lihat 5-10 tahun ke depan, kebijakan pemerintah terhadap itu bagaimana. Dan kami lihat banyak industri manufaktur yang bagus," kata Lenny.

 
 

 

CopyRight @ SatuMenit.Com 2010